February 18, 2007

Seni Video dalam Pemetaan / yakarta, Indonessia

 

Kaleidoskop Kecil 2001-2006

Ragam video art merebak lewat beragam perhelatan kesenian. Baik dalam acara sekali semalam hingga festival berhari-hari. Dalam skala lokal hingga internasional. Komunitas dan senimannya bertunasan. Negeri ini pun masih subur menumbuhkan benih-benih baru. 

Sebuah layar putih telah terbentangkan di panggung Selasar Sunaryo Art Space, Bandung. Menembakkan gambar-gambar bergerak. Dua lelaki berpakaian serba putih muncul dari arah berlawanan: kiri dan kanan panggung. Mereka saling bertatapan nanar. Berdiri di sisinya masing-masing. 

Beberapa puluh menit sebelumnya, mereka melakukan performance art yang selaras dengan citraan pada layar. Menggambarkan aktivitas dan visual yang ditemukan dalam suatu perjalanan seorang pemain akoredeon dari Jakarta menuju Bandung. Di tengah-tengah panggung, seseorang yang diceritakan itu memainkan akordeon. Memusikalisasi citraan bergerak. 

Ketiga media berbeda itu menyatu menjadi sebuah pertunjukan. Sebuah kolaborasi permainan akordeon oleh Pascal Contet asal Prancis dengan interactive video art karya seniman video muda asal Bandung, Prilla Tania dan Ariani Darmawan dari VideoBabes, pada pertunjukan bertajuk Meet Mister Greet (17/11), digagas oleh CCF Bandung. Program ini juga digelar di Galeri Cemara, Jakarta (19/11). 

Pemandangan seperti itu sudah tidak jarang ditemui dalam perhelatan kesenian terkini. Di mana seni visual terinstalasikan dengan bentuk seni lain. Selain itu, masih ada ragam perhelatan yang mengetengahkan video art (seni video) sebagai karya yang dipamerkan di negeri ini, terutama di kota-kota yang menjadi barometer kesenian dalam negeri. Sebut saja, Jakarta, Jogjakarta, dan Bandung. 

Komunitas yang merawat kerja senimannya pun bertumbuhan. Di Bandung, pada tahun 2004 berdirilah dua komunitas video yakni, VideoLAB dan Videobabes. Selain itu, ada juga Bandung Centre for New Media Arts (BCfNMA) yang berdiri setahun sebelumnya. Selain komunitas, institusi kebudayaan asing seperti Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) dan Goethe Institut juga turut menyemarakkan wacana seni video. Mulai dari penyelenggaraan program reguler semacam video screening (penayangan video) beserta diskusinya, festival, workshop, hingga kompilasi karya.  

Dalam tahun 2006 saja, tercatat belasan aktivitas pameran seni video diselenggarakan di Bandung, dan puluhan lainnya tersebar di kota-kota lain. Di awal tahun, telah terselenggara Video After School Project oleh Cerahati Artworks bersama BCfNMA dan Universitas Widyatama 

Sementara itu, VideoLab secara rutin menggelar program bulanannya, Cinematic Lab, Program penayangan karya video di ruang terbuka dimana mereka mengambil tempat proyeksi di tembok kreativitas pada outlet distro 347, Jalan Trunojoyo, Bandung. Strategi ini memang diniatkan untuk menjaring publik yang sedang terjebak macet saat melintasi jalan yang kerap dipadati lalu lalang kendaraan tersebut. Meskipun pada praktiknya, jalan yang dimaksud sudah tidak sepadat itu lagi. 

Pada hari selanjutnya, karya-karya tersebut disuguhkan dalam forum diskusi Bedah Video dan Kopi Sore. Momen ini mengambil tempat di kafe-kafe, seperti di beberapa kali pelaksanaannya di Potluck Cafe. Meskipun ketiadaannya lokasi tetap, semacam basecamp setelah ruang inisiatif If Venue terpaksa harus tutup, alasan lain pengambilan lokasi ini, untuk mendekatkan akses terhadap publik.  

Semua didasarkan atas keinginan mengekspresikan diri, memberi ruang bertemu bagi sesama penyuka video dan yang berkarya dengan video, serta memberi kesempatan bagi publik untuk mengapresiasi (Pikiran Rakyat, 3/8). 

VideoLAB mencoba konsisten dengan niatnya dengan menggelar program-program tersebut hampir setiap bulan di sepanjang tahun ini. Seperti pada bulan April, saat mereka mempertemukan karya-karya dua mahasiswi dari dua kota. Mereka adalah Andi Bini Fitriani (Bini) dari ITB dan Siska Rahadiyanti (Cyka) dari ISI, Jogjakarta. 

Pada bulan selanjutnya, giliran dua seniman video dari dua kota dan komunitas. Mereka adalah Paul Agusta (Komunitas Utan Kayu, Jakarta) dan Ariani Darmawan (VideoBabes, Bandung). 

Di bulan Juni, VideoLAB melakukan kerjasama dengan komunitas ruangrupa, Jakarta, dengan menayangkan kompilasi karya video berjudul Lupita’s Collection yang dikurasi oleh Rene Hayashi, Eder Castillo, dan Mike Rodriguez dari Mexico. Di waktu yang sama, juga ditayangkan kompilasi FemLink yang berisi karya-karya perempuan dari berbagai negara termasuk Prilla Tania, seniman video dan performance art asal Bandung yang sempat ikut mendirikan VideoLAB sebelum akhirnya membentuk Videobabes bersama Ariani Darmawan. 

Program Cinematic Lab yang diniatkan sebagai program gabungan (kejasama) bulanan itu, pada bulan Juli lalu, mempertemukan karya-karya dari Dodi Mustafa (Domus) dari ITB dan Muhammad Yudi Suhairi (Gorky) dari UNIKOM. Kali ini dengan kesamaan tambahan. Keduanya merangkap kerja sebagai desainer grafis. 

Sebelum akhirnya berhasil memboyong Tintin Wulia, seniman video asal Bali yang kini berdomisili di Australia ke dalam Bedah Video dan Kopi Sore (17/11) di lokasi baru Potluck Cafe, Videolab membuat sebuah kompilasi video berjudul Bandung Time Line 2001-2006.  

Kompilasi 24 karya seni video yang lahir di Kota Bandung dari tahun 2001 hingga 2006 ini uniknya memilih 9 perempuan dan 15 laki-laki yang karya videonya belum pernah dipamerkan dalam program-program mereka sebelumnya.

Menurut Andry Mochammad (Andry Moch), salah satu pendirinya, pilihan ini untuk memberikan kesempatan bagi seniman video yang belum pernah ditampilkan oleh VideoLAB untuk memperkenalkan karyanya kepada publik. Selain ditayangkan di Embargo Cafe, Bandung (23/9), kompilasi itu juga ditayangkan di Aksara Bookstore, Jakarta Selatan (30/9). 

Kerja seperti ini merupakan bagian penting dari denyut nadi kehidupan komunitas. Selain sebagai ajang pertemuan dan perkenalan antarartis, juga membukakan akses penyebaran karya atau distribusi.

Seperti pendapat Jaka Satiawan yang karyanya, 2 Media, turut serta dalam kompilasi ini. “Sebuah kehormatan gue bisa diajak ikutan kompilasi ini dan tentunya membantu distribusi, sehingga karya gue dilihat lebih banyak orang,” tutur Jaka. “Gue pengen bilang, komunitas dan event seperti itu sebenarnya merangsang dan menginspirasi banyak orang untuk berkarya dan belajar, terutama gue,” lanjutnya.  Selain Jaka, kompilasi ini juga diikuti oleh Adi Dharma ,Steve A. Gottlieb, A. Wisnumurti, Dave Syauta, Frino Bariarcianur, Firman Maulana, Yuriza Kenobhi, Riva Ramandha, Giovanni Pramudito, Achmad Krisgatha, Osman Laurs, Suharmoko, dan Toan Sindhu. Sementara generasi perempuan diwakili oleh Pujisiswanti, Mizuho Matsunaga, Victoria Catón, Rani Ravenina, Febi Beby Rose, Martina Dila Abulia, Diah Hapsari, Ira Mutiara Rahmadini, Tisa Granicia, dan Irine Stephanie. Herra Pahlasari, penggagas kompilasi ini mengatakan, ini adalah kompilasi perwakilan pekerja video dari generasi ke generasi dan karyanya yang hadir di Bandung pada tahun 2001-2006. Menurutnya, kompilasi ini akan membantu penelitian atas video itu sendiri serta pembedaan antarpekerja video berdasarkan tipe, teknik editing, gagasan, konsep, dan lain-lain. Mengutip artikel di Kompas (5/11), Krisnamurti menuliskan, proyek yang diinisiatifkan VideoLAB sebagai pendataan ini patut diacungi jempol, sebagaimana juga sejawatnya di Yogyakarta, Video Battle. Ini berguna tidak saja untuk memetakan, tetapi juga membaca lebih kritis budaya visual kita hari ini. Peta budaya visual di mana seni video termasuk di dalamnya dapat diukur dan dideteksi dari ragam acara semacam ini. Tentu saja aktivitas semacam ini membuka peluang berkomunikasi, berinteraksi antar sesama penggiat. Video Battle juga membuat kompilasi yang ditayangkan di Screen Box, Jakarta. Dandelion Song dan Beautifall, karya Muhammad Akbar, turur serta dalam kompilasi ini. Tak ketinggalan karya video musik Superhebred dari band A Stone A asal Bandung. Geliat seni video lewat perhelatannya semakin terasa di penghujung tahun 2006, baik yang berlangsung di Bandung maupun tempat-tempat lainnya. Setelah kompilasi rilisan VideoLAB itu, di Semarang berlangsung pula kegiatan serupa yakni, acara VIDIOT: Festival Video Art Belanda – Indonesia (17-19/11), digagas Lembaga Kebudayaan Belanda Widya Mitra, komunitas Kronik Filmedia, dan Rumah Seni Yaitu di kota setempat. Selain VideoLAB, dari Bandung terlibat pula Never Seen Vision dan Cerahati dalam acara pameran dan diskusi video termasuk instalasi dan musik ini. Turut pula berpartisipasi ruangrupa (Jakarta), Video Battle (Jogjakarta), dan Montevideo (Belanda).  Seni video sebenarnya mulai mendekati wilayah seni rupa di Indonesia pada akhir dekade 80-an. Namun saat itu, belum terjadi anemo dan respon besar-besaran seperti yang terjadi dalam dekade ini. Dalam kurasinya untuk OK Video (2003), Agung Hujatnikajennong menyebutkan, bahkan hingga awal dekade 90-an, lokakarya seni video yang melibatkan seniman-seniman luar negeri di Indonesia kurang mendapatkan perhatian. Pameran-pameran seni rupa yang berlangsung juga jarang membahas keberadaan medium video secara keseluruhan. Mari kita kembali ke lima tahun sebelum saat ini. Ketika tahun 2001, tercatat sebuah pameran bertajuk Wayang Machine karya Krisna Murti di Galeri Barak, Bandung. Tentunya pameran ini sebuah kelanjutan dari yang telah dirintisnya sejak tahun 1993 saat ia pertama kali menggelar pameran karya videonya yang berjudul 12 Jam dalam Kehidupan Penari Agung Rai. Penyelenggaraan acara dalam wacana seni video di Indonesia yang melibatkan seniman mancanegara pun telah dirintis semenjak tahun 2002. Saat itu, lahirlah sebuah festival bernama The Bandung Film, Video and New Media Arts Festival (BAVF~NAF). Digagas oleh Krisna Murti yang kemudian dicatat sebagai pelopor seni video di negeri ini, festival itu diupayakannya sebagai respon terhadap seni video yang akhirnya mulai marak pada tahun itu. Krisna sempat meretrospeksi dalam artikel yang ditulisnya dalam Kompas, saat itu anemo publik belumlah sebesar yang terjadi pada saat ini. Katanya, “Pada kurun waktu ketika diadakan festival seni media internasional pertama di Bandung (bavf~NAF # 1, 2002) denyut nadinya masih sulit terlacak.” Tercatat puluhan karya video datang bukan hanya dari seniman lokal namun juga dari Belanda, Finlandia, Amerika serikat, Spanyol, Kuba, Inggris, dan Jepang. Saat itu, Krisna menyebutkan, “Forum itu tidak saja untuk mengukur sejauh mana seni media baru menjadi bahasa baru di Indonesia, tetapi lebih untuk membuktikan kepada dunia luar bahwa teknologi di Indonesia tak hanya berarti barang konsumsi,” (Kompas, 21/8/02). Krisna mengatakan, festival itu mengetengahkan video baik dalam kanal tunggal, performance, maupun multimedia. “Video harus dilihat dalam wacana media baru biar tidak terbatas seperti another film,” lanjutnya kepada saya. Di Jakarta, sebenarnya ada festival bertajuk Animation and Special FX (AFX) di tahun tersebut. Meskipun tidak disebut sebagai festival seni video. Dimana Jaka bersama karya 2 Media itu meraih juara pertama. Festival yang baginya paling berkesan sampai saat kini itu, dikatakannya mampu membuat ia lebih terdorong untuk berkarya.  Selang beberapa bulan, tepatnya jatuh pada tahun 2003, lahirlah sebuah festival seni video bertaraf internasional yang digagas ruangrupa (Jakarta), sebuah organisasi nirlaba seniman di Jakarta. Festival ini mengikutsertakan tak kurang dari 60 karya dari berbagai negara seperti, Cina, India, Jerman, Australia, Denmark, Amerika Serikat, Finlandia, dan lain-lain.  Tema yang diangkat dalam festival dwi-tahunan itu mencakup tema-tema yang kerap diangkat seniman videonya, sesuai hasil riset yang dua tahun sebelumnya mereka jalani. Ruangrupa menemukan, selain tubuh-identitas, seniman video saat itu kerap mengangkat isu yang berkaitan dengan kebudayaan massa, ruang pribadi-ruang publik, dan politik. Pilihan bersikap mereka yang terjadi di antara perdebatan yang tetap ada tentang klasifikasi karya seni video membuat ruangrupa dinilai berani membuat terobosan langkah dan sikap yang jelas. Agung menyebutkan, di tengah perdebatan yang kompleks tentang kategorisasi dan perbedaan sifat-sifat seni media baru, pameran OK Video mengambil sikap yang jelas dengan mempertimbangkan berbagai kepentingan dan konteks sosial-historis yang melingkupi wacana video art di Indonesia (Kurasi OK Video, 2003). Perkembangan seni visual di Indonesia tak lepas mempengaruhi keberadaan seni video. Selama ini, Krisna melihat, ruangrupa sangat percaya diri akan peradaban yang berkembang di dunia. Adalah kebanggaan tersendiri apabila seniman, mulai dari Afrika Selatan, Jepang, hingga Amerika Serikat, kini dapat berpameran di Jakarta (Sinar Harapan, 2/7/03). Ade Darmawan, perancang festival, dalam pengantar kurasi menyebutkan, karya-karya yang ditampilkan akan memperlihatkan keberagaman pencapaian gagasan serta teknis dari medium video, terutama yang berhubungan dengan persoalan kebudayaan kontemporer. Selain itu, menjadi telaah praksis dan teoritis dalam melihat kolaborasinya antara seni dan teknologi.  Kegiatan ini juga diniatkan sebagai forum yang menstimulus dan memediasi interaksi antara seniman dan karyanya antarkota dan negara lewat pertemuan, kerja kolaborasi, workshop, dan presentasi karya. Wilayah ini dibukakan secara luas kepada publik manapun sekaligus memperkenalkan video sebagai medium ekspresi seni. Sebuah upaya mengajak publik melihat ulang budaya tontonan setelah sebelumnya terbangun oleh media televisi. Ade juga menegaskan, ruangrupa percaya akan pentingnya penyelenggaraan event ini, mengingat seni rupa adalah sebuah praktek budaya dan lebih jauh lagi, sebuah strategi kebudayaan. Festival dan ragam aktivitas sejenisnya tak pernah terlepas dari artists iniative groups (untuk menyebut komunitas dan kantung-kantung budayanya).  Seperti terurai di atas, jelas aktivitas seperti itu lahir dari mereka, kelompok yang sebenarnya tidak terikat secara struktural dengan lembaga-lembaga suprastruktur itu. Ini menjadi pembeda sekaligus penanda kecenderungan generasi muda saat ini dalam berkarya dan menggulirkan karya dan pemikirannya di tengah publik. Krisna pernah menyebutkan, secara sosiologis, artists initiative group merupakan fenomena infrastruktur seni setelah periode pasca-booming seni tahun 90-an yang diikuti krisis ekonomi berkepanjangan. Para pekerja generasi ini tidak pernah menikmati gelembung kemakmuran seperti generasi seniman sebelumnya yang kenyataannya berhasil membangun galeri atau museum pribadi yang mewah di berbagai kota, seperti Bandung, Yogyakarta, Magelang, hingga Klungkung di Bali. Ia menambahkan, dengan segala keterbatasannya, generasi mereka adalah para pekerja yang penuh percaya diri untuk meng-kurasi dan menyelenggarakan pamerannya sendiri, membangun ruang seni (art space) secara swadaya, membuat dan mendistribusikan informasi dan buletin (newsletter) dalam cetak low budget maupun situs web secara gotong royong hingga menjalin jaringan antarkomunitas dan institusi penyandang dana di mancanegara. Barangkali OK Video adalah sebuah contoh geliat generasi ini yang mampu membalik mitos kebanggaan go internasional bagi seniman Indonesia yang diundang dalam sebuah bienale di luar negeri. Mereka justru sebaliknya: mengundang seniman mancanegara ke festival video internasional di Tanah Air(Kompas, 1/3/05).  Penyelenggaraan aktivitas dalam ranah video juga diupayakan oleh beberapa pusat kebudayaan asing. Seperti yang pernah dilakukan oleh Pusat Kebudayaan Prancis (CCF) Bandung maupun Jakarta pada tahun 2004, lewat pameran video mode bertajuk Au de la du mode (Lebih dari Sekadar Busana). Konsepnya, memamerkan karya seni busana lewat medium video. Tidak seperti halnya pada peragaan busana konvesional yang menggunakan medium pertunjukan di atas catwalk. Desainer busana kali ini berkolaborasi dengan seniman video untuk menghadirkan karya di manapun tanpa kendala jarak dan waktu lagi lewat kepingan DVD, merekam busana, ruang, peristiwa, dan melibatkan sudut pandang seniman video dalam bahasa citraan bergerak. Tidak lama berselang, pada bulan April, para cikal bakal VideoLAB saat itu mengadakan Beyond Panopticon di BEC, sebuah pusat pertokoan barang elektronik yang baru saja dibuka. Dari situ tercatat, tak kurang dari 60 kaum muda di Bandung berkerja dengan video. “Dari sisa kepanitiaan inilah, VideoLAB terbentuk,” tutur Andry.  Masih dalam tahun yang sama, menyusullah pameran Mediabaru@egroups di Galeri Lontar, Jakarta. Acara ini hasil kolaborasi komunitas dari Bandung (Jejaring, VideoLAB, Wayang Cyber), Jakarta (ruangrupa, Kasatmata, Komunitas Sinematografi IKJ), Jogjakarta (Ruang Mes 56), dan Bali (Minikino).  Agung sempat menilai, kegiatan ini seolah semakin menegaskan keberadaan genre ‘seni media baru’ (new media art) di Indonesia, menyusul maraknya beberapa event serupa yang berlangsung silih berganti sepanjang tahun 2002-2004 di beberapa kota di pelosok Jawa dan Bali (Kompas, 16/5/04). Kembali ke kota Bandung, Goethe Video Art 2004 digelar BCfNMA dimana ini merupakan program pemutaran nominasi karya video asal Jerman untuk Penghargaan Video Art Marl 2000-2002. Dalam acara tamu ini, BCfNMA menayangkan pula karya-karya video dari senimannya di Bandung, Jakarta, dan Bali. Di akhir tahun, BCfNMA mengadakan kegiatan bertajuk Video Mbeling. Konsepnya, memindahkan makna dalam bahasa puisi mbeling ke dalam narasi visual. Acara ini diikuti di antaranya oleh Andry Moch, Prilla Tania, dan Dodi Mustafa.  Pada pertengahan tahun 2005, di ITB digelar pameran Video Sculpture di Jerman Sejak 1963. Acara ini seakan berusaha memetakan seni video dari sejak dekade kelahirannya di 60-an hingga ragam generasi beserta kecenderungan karya  yang ditemui.  Pada tahun 2005, kegiatan komunitas inisiatif artis semakin kencang bergulir. Di Bandung, sebelum akhirnya tahun ditutup dengan acara video ASEF’s The Third Asia Europe Art Camp 2005 yang digelar atas kerjasama ASEF’s, Common Room dan CCF, di Jakarta, ruangrupa baru saja merampungkan festival OK Video yang kedua: OK. Video SUB/VERSION Jakarta Video Festival 2005, di Galeri Nasional Jakarta. Dalam usia perjalanan yang masih relatif muda, seni video telah memperlihatkan gairah dan gejolaknya dari segelintir contoh yang disebutkan. Kini kembali ke tahun 2006, di kala penghujung. OK Video di bulan November yang lalu melakukan lawatan internasional ke negeri jiran. Dengan tajuk OK Video: Kuala Lumpur, Jakarta Video Festival in Kuala Lumpur, Malaysia, festival kali ini membuat seleksi karya dari dua periode yang telah dilaluinya. Bertempat di Galleriiizu Kuala Lumpur, terpilihlah 25 artis asal Indonesia dari 29 terpilih yang berarti terseleksi dari 90 peserta dalam kedua periode itu. 

Sementara itu, di Bandung, baru saja diselenggarakan Bandung Video Music Festival (26/12). Diikuti oleh 26 peserta dan menyeleksi 9 di antaranya sebagai yang terbaik. Rencananya, kesembilan karya itu akan dimasukkan ke dalam kompilasi. Namun, persoalan distribusi dan kelanjutannya itu, diakui Adi saat ditanyai tempo hari, belum mencapai kata sepakat. “Perlu dibicarakan lagi dengan pembuat videonya,” tutur Adi, Ketua Panitia.

Gorky, yang sempat ikut dalam program Cinematic Lab menunjukkan konsistensinya pada video dengan mengikutsertakan karya video The Milo feat. Love and Affair untuk lagu Sianida. Mendapatkan Juara III, ia merasa acara seperti ini dapat mendorong orang untuk lebih produktif berkarya. Lagi-lagi, anemo terhadap perkembangan suatu wacana datang dari publik di Bandung, termasuk seni video. Yang terlihat, gerakan video dan media baru pun dirintis di Bandung, seperti halnya pada performance art maupun puisi mbeling. Krisna pernah memberikan pandangan, perkembangan wacana seni video di indonesia umumnya masih belum marak. Barangkali karena faktor alat dan ekonomi. Tapi lucunya penggunaan kamera digital, telepon seluler, internet dan games untuk keperluan hiburan dan praktis setiap tahun meningkat. Di bandung banyak seniman muda bekerja dengan video, banyak institusi dan komunitasnya bahkan festival. Tapi sepertinya kontinuitasnya belum terjaga. Seniman muda yang mestinya menjadi penopang pervideoan seperti terjadi di korea, jepang bahkan thailand, realitasnya masih mengerjakannya sebagai pekerjaan sambilan di samping sebagai perupa. Ada institusi yang keren keren tetapi kurang menelurkan pikiran-pikiran yang mencerahkan di tengah meriahnya praktek media baru sebagai gaya hidup. Semestinya ini kesempatan bagi mereka untuk mempunyai posisi budaya yang menentukan di tengah konsumerisme budaya di saat ini (blog VideoLAB, 23/10/05). Persoalannya, kerap ada stigma bahwa kontinuitasnya takkan bertahan. Contoh paling dekat, perfilman indie (Aksara, 2000). Konteksnya, komunitas dan ruang-ruang alternatifnya. Isu ini juga pernah diangkat dalam sebuah pertemuan santai di antara penggiat komunitas seni video di Bandung tempo hari, Juli, di Selasar Sunaryo, Bandung. Dimas Jayasrana, penggiat di ruangrupa (Jakarta) pernah menyebutkan, yang terpenting adalah penguatan jejaring, komunikasi terbuka antarjejaring. Misalnya, dengan bertukar pengalaman atas persoalan dan kendala yang dihadapi. Bisa jadi, menurutnya, persoalan yang dihadapi tidak jauh berbeda. Dengan komunikasi terbuka, memungkinkan mencari pemecahan secara bersama-sama. Dimas menambahkan, yang tak kalah penting untuk disadari adalah niat yang dibangun saat membangun suatu komunitas. Artinya, perlu dipertanyakan dan dikaji ide, tujuan, dan kesiapan mental yang ada saat bermaksud mewujudkannya. Persoalan yang seringkali ia temukan, habisnya energi di tengah perjalanan. Menurutnya, sesuatu tidak bisa harus dicapai dalam waktu dekat kecuali sudah siap mental dan energi. Ada keinginan kuat untuk eksperimen dalam komunitas. Mereka datang dari berbagai disiplin seni dan ilmu. Suatu waktu akan terjadi bentuk seni baru minimal bahasa artistik baru,” tutur Krisna saat ditanya pandangannya tentang komunitas seni video yang bermunculan, terutama yang ada di Bandung. “Teruslah eksperimen, membuka diri , jangan cepet letoy, buktikan mereka adalah generasi produk jaman yang jelas (identitas) bukan korban jaman,” lanjutnya memberi saran dan dorongan motivasi. Sementara itu di Jakarta, ruangrupa saat ini sudah mulai berkerja untuk penyelenggaraan OK Video periode III di tahun 2007 mendatang. Dalam forum elektroniknya, ruangrupa mengabarkan rencana konsepnya. Berbeda dengan periode sebelumnya, kali mendatang, mereka akan fokus pada kemungkinan intervensi karya video di tempat publik. Baik yang sudah memiliki perlengkapan penayangan maupun yang belum. Seperti, jalan, gedung, halte busway, stasiun kereta, ruang tunggu apotik, rumah sakit, mal, kafe, restoran, toko elektronik, website, tv station, tv wall, dan lain-lain. Ide ini agaknya selaras dengan apa yang Krisna ingin sampaikan kepada ruangrupa. “Seharusnya ada lagi 200 festival serupa, jadi lebih beragam dan bersaing. Ukuran seninya juga akan lebih bervariasi. Saya pernah sarankan lewat Kompas, seharusnya di OK Video mendatang jangan lagi di gedung galeri tapi di ruang publik : mall, café, jalanan, taman, di tempat dugem, disco, WC umum, di warnet-warnet,” katanya, “di mana saja orang banyak kumpul. Jangan menjaring orang (peminat) seni aja. Aksi langsung ke publik,” sarannya kemudian saat ditanya pandangannya tentang festival tersebut. Yang pasti, ruangrupa menyatakan, mereka tidak akan melibatkan kurator dengan kurasi tertentu, tetapi mereka akan melibatkan seniman, komunitas, individual dan organisasi seni dan non seni dalam berkolaborasi menyusun program bersama. Masih di kota yang sama, sebuah komunitas bernama Hello Motion juga akan menggelar kembali festival videonya, Hello;Fest IV, di tahun 2007. Festival ini berbeda dengan yang lainnya karena menggunakan fasilitas dan media internet (web) sebagai medium pameran dan interaksi karya. Lewat blog mereka, Hello Motion mengatakan, mereka menggunakan konsep festival sepanjang masa. Seakan-akan festival ini dilaksanakan setiap waktu dan setiap saat. Salah satu cara untuk merealisasikan konsep ini adalah dengan mempertontonkan melalui internet. Jika karya tersebut dapat mencapai syarat-syarat tertentu, maka dapat melanjutkan ke tahap berikutnya yaitu Hello;Fest Awards, Hello;Fest Roadshow, Hello;Fest Screen dan program lainnya. Tagline-nya: Festival Motion Picture Arts sepanjang masa, setiap hari terasa di Hello;Fest!   Kembali ke Bandung, VideoLAB tetap mencoba menjaga kontinutasnya dalam menjalankan program-program mereka. Muhammad Akbar yang juga penggiat VideoLAB mengatakan, komunitasnya sedang kembali menggodok program bulanan Cinematic Lab untuk tahun 2007. Rencananya, mereka akan menayangkan karya-karya video musik untuk edisi awal tahun, Januari. Sebuah saran sempat datang untuk VideoLAB. Dwi Suharmoko yang karyanya ikut dalam kompilasi Bandung Time Line 2001-2006 dan OK Video 2003 dan 2006, berharap agar VideoLAB mencoba menyelenggarakan festival bertaraf internasional. 

Sementara Krisna Murti punya pandangannya sendiri terhadap kegiatan seperti itu.

“Bagus. Komunikasi dan sosialisasi ini akan produktif dan mencerahkan. Tapi jangan cuman duduk, mengkonsumsi tontonan, begitu sampe rumah, ya, bikin karya yang dahsyat, begitu seterusnya, ditayangkan, dibahas,” tuturnya. “Itulah kebudayaan yang hidup, seniman kreatif, masyarakat jadi sehat!” lanjutnya optimis. 


Posted on 02/18/2007 11:47 AM Comments (0)

GuateMex: No-Man's-Water / 330 / Sarai Reader 2006: Turbulence

O

 Strange Days / 329

On the border between Southern Mexico and Northern Guatemala runs the river

Usumacinta, a liquid border legally known as a 'shared basin'. There are 58 shared

basins in Latin America, and every country in Mesoamerica shares a boundary river

or other significant water resource. Much attention has been given to the border between

the US and Mexico, particularly the Rio Grande river, which has spawned the pejorative word

mojado

, Spanish for the derogatory term 'wetback' – in other words, for 'illegal' immigrants

to the US who have had to swim across the border. Many of these people have had to cross

several shared basins on their long and arduous trip northwards to the perceived land of

opportunity. They are driven by what are known, in the discourse of migration and

demographics, as 'push factors', such as underdevelopment, poverty, corruption,

exploitation, low wages or political strife; likewise, 'pull factors' lure migrants towards more

prosperous terrain with a promise of higher standards of living.

1

The immigrant trajectory northwards runs perpendicular to these rivers, transforming

the flowing water into a succession of natural barriers. This was not always the case, as

originally the Usumacinta river was one of the main trading routes for the Mayans. It is still

used to transport

chicle

(the gum obtained from the latex of the sapodilla tree; also known

as

oro blanco

, 'white gold') and logs downstream. But for the contemporary immigrant, the

river is a formidable obstacle, draining 42% of Guatemala, with an annual discharge of

105,200 million cubic metres into the Gulf of Mexico.

2

The area of this shared basin is among the poorest in Guatemala and Mexico. The Peten,

Guatemala's northernmost district, was until recently a centre for armed conflict between

 

guerrillas and government troops. Even now, certain areas of the bordering Lacandon forest

are held by a group of freedom fighters known as the Zapatistas, following their 1994

uprising which aimed at shoring up the eroded rights of the local indigenous Mayan

population. Mayans make up 60% of the Guatemalan population, and constitute the majority

of immigrants who head north across the river. However, immigrants from El Salvador,

Honduras and Nicaragua, who over the years have been affected by a variety of problems

(including drought, earthquakes and social revolution), significantly increase the flow.

Thus, the region has become a volatile transit zone, unofficially known as the 'Rear

Guard' in the US-backed fight against illegal immigration. Other than the 250,000 or so

'illegal aliens' (as these immigrants are known in the US) who attempt to enter that country

from Central America each year, this area is also the western terminus for the annual

immigration of approximately 100,000 immigrants from Asia.

The US response has been to endorse, or should one say enforce, the 'Southern Plan',

which led to the deportation in 2001 of over 6,000 Central Americans from Mexico, back

across the Usumacinta. In short, the river has been a major hurdle to immigrants on an

already daunting trip, 'pushing' themselves away from hunger and being 'pulled' towards a

higher standard of living.

Initiated in 2005, GuateMex is a project that aims not just to help ease the problems of

crossing this specific border, but also to enable the would-be immigrant to deal with

immigration goals and challenges down the line, such as better-paid jobs, and protection

from the risk of being persecuted by the US Department of Homeland Security (formed

post-9/11), as well as by newly formed citizen vigilante groups such as the 'Minutemen'.

GuateMex is a 'raft' that attempts to counter the political and physical hurdles present at

the border, through offering internet access and basic internet/computer education to

immigrants on their journey. The 'raft' is a 6 metre x 4 metre structure, with a base

composed of 55 gallon drums and a superstructure made with modular tent-like material

that both shelters and ventilates as the need arises. Inside, there is a bank of computers

hooked up to the internet. Immigrants can anonymously draw up to the docking platform,

where they are then guided through simple Internet procedures and given advice about how

and where to access the internet down the line.

The simple key to this process is a pragmatic sleight-of-hand that places the project in

the 'no-man's-water' between the two countries. Thus, the raft becomes an autonomous

zone, independent and sovereign to itself. The raft transforms the river from a hurdle into

a conduit, decreasing the turbulence of human traffic created by xenophobic local

resistance, political red tape and US border-patrol oppression.

The raft is an outgrowth of a relatively long tradition of clandestine or non-sanctioned

broadcasting, otherwise known as 'pirate radio', that blossomed in the 1960s in Europe,

particularly in the form of the offshore radio station, Radio Caroline. Other 'freebooter'

broadcasts include 'border blaster' stations that transmit programmes in violation of US law

across the US-Mexican border, although in this case the stations are on Mexican soil, and

thus not as autonomous as those stations or hubs in international waters. Not surprisingly,

 

international waters have been effectively used as a propaganda tool by countries such as

the US as in the case of Radio Swan, which transmitted pro-US messages to Cuba off the

island of Swan, a territory disputed between the US and Honduras.

The raft itself is a powerful symbol of the plight of immigrants, being a rudimentary,

precarious (and sometimes the only) way of travelling across water to reach the desired

country. Most notable is the Cuban

balsero

(rafter) phenomenon, which has lead to the

death at sea of approximately 70,000 Cubans of all ages in the last four decades.

3

However, in the case of GuateMex the raft becomes a tool of support and hope, more akin

to American writer Hakim Bey's concept of the Temporary Autonomous Zone (TAZ).

4

Bey describes the socio-political tactic of creating a contingent domain that eludes

formal structures of control, a new territory of the moment on the boundary line of

established regions. He kicks off his explanation of the TAZ by describing the social

formation of the "Sea Rovers and Corsairs", who lived outside the law and set up an

"information network" that spanned the globe. He then goes on to draw parallels between

these societies and the potential of the Web. In effect, GuateMex bridges the romantic,

literally 'offshore' notion of a completely autonomous community such as the Corsairs, and

the 'autonomous zones' offered to us through the useful flow and supply of information that

can be accessed through the internet.

The internet raft helps build a community among this tenuous, constantly trickling flow

of immigrants who have passed through, helping to weave a wider fabric of support, as

successive immigrants can inform newcomers of what lies ahead. At a more profound level,

the raft becomes a vehicle that starts to give this vulnerable population a sense of group

solidarity and self-awareness, which can only add to its existing strengths.

Needless to say, the internet is increasingly becoming a war zone for the advocacy and

rejection of humane immigration policy. Beginning in April 2005, the Minuteman Project (co-

founded by Jim Gilchrist and Chris Simcox, and self-defined on its website as "a citizen's

vigilance operation monitoring immigration, business and government") has drawn

thousands of Americans to the Mexico-Arizona border, to seize immigrants trying to get

across into the US. On 30 May 2006, in their latest effort to block illegal crossing, a cadre

of 'Minutemen' began building a 10-mile-long fence of barbed wire, razor wire and steel rails

on private land in south-eastern Arizona. The estimated time for completing the fence: three

weeks. The estimated cost: $100,000.

According to Gilchrist, "…if I didn't have the internet, the Minuteman Project probably

wouldn't have happened"

5

. All his volunteers are assembled and coordinated through his

website. On the other side of the coin, organisations that defend the rights of immigrants

are generally outgunned and outclassed by their opponents. According to human rights

advocate Armando Navarro, professor of ethnic studies at the University of California,

Riverside: "There is no doubt… [the vigilantes]… are winning the internet battle"

6

. Part of

the problem is that immigrants and their supporters are generally less well off and have far

less access to computers, and hence limited access to the potential for grassroots

organising enabled by internet communication.

Strange Days / 331

332 / Sarai Reader 2006: Turbulence

 

In its own particular way, GuateMex helps to introduce the benefits of the internet to

those who have very little digital access; it thus begins to level the playing field between

those who aim to block the flow of immigrants and the immigrants themselves. The ultimate

goal of GuateMex is to place these rafts on most of the shared basins in Central and South

America – and perhaps even in other parts of the world, wherever there is a perceived need

to ensure the safety and knowledge of would-be immigrants as they traverse new territories

that present challenges, dangers and opportunities. These mobile rafts would thus act as

an extended nervous system that transmits valuable information to people who need it for

literal and psychological survival. And perhaps the rafts would also be able to provide the

assurance of at least one stable link in the 'push' and 'pull' of the migrant's turbulent and

changing world.

GuateMex is directed by René Hayashi and Eder Castillo, with inputs from Marcos Lutyens, Freyja Bardell and

Blair Ellis.

NOTES

1.

Melinda S. Oja. Illegal Immigration and Human Smuggling: Central America and Mexico” (White Paper,

2002, International Policy Formulation).

2.

S. Jeffrey Wilkerson. "Damming the Usumacinta: The Archeological Impact". In (ed.) Virginia M. Fields, Sixth

Palenque Round Table (University of Oklahoma Press, 1986), pp. 118-134.

3.

Armando Lago. El Nuevo Herald, October 2003.

4.

Hakim Bey. The Temporary Autonomous Zone, Ontological Anarchy, Poetic Terrorism (Autonomedia Anti-

copyright, 1985).

5.

William Finn Bennett. "Internet a key tool for immigration issue organisations". NCTimes.com, 11 June

2005.

6.

Ibid.


Posted on 02/18/2007 10:07 AM Comments (0)

VIDEOLAB MONTHLY PROGRAM // JUNE 2006 / INDONESSIA

For this June 2006, videolab co-operated with Reza Afisina ( Asung ) from ruang rupa to show the videoworks compilation of "Lupita's Collection"  curated by Rene Hayashi, Eder Castillo and Mike Rodriguez from Mexico. "The idea of showing these video selections was to created a strategy for looking different places or countries where Mexican visual artist don't usually had shown there. In a way there's also possibilities to gain many information and sharing within the development of video as work or as a media for showing visual art works in everywhere."

 

And also, linked by Prilla Tania, we will show at the same time a video collection from FemLink, a video compilation from 32 female artists around the world, initiated by Veronique Sapin from France and C M Judge from USA. " Our hope is that our video collage may, as it is broadcast and widely exhibited, contributes positively in a just way to our diverse world."

 

Through the two above video collections, we will talk and discuss about the medium of video as one expression media of art, the flexibility and fragility of this medium these days. The talks will be guided by Aminudin TH Siregar, a curator from Soemardja Galery, ITB and Rene Hayashi, one of the curator of Lupita's Collection.

                                             

Fyi, at the moment our partner KINOKI from jogya cannot realized our monthly program

that usually show every month at their space. We hope, soon Kinoki and Jogya will recovery from all of the earthquake mess. Our new partners at this month are space36x50x25 that belong to Soemardja Gallery, ITB and TUK in Jakarta through Paul Agusta and their film community.

  

Come and Join us,

 

Herra Pahlasari

Program//Database

 

S c h e d u l e :

 

Friday, 16 June 2006

CINEMATIC LAB // outdoor screening

@347/eat clothing store, Jl. Trunojoyo Bandung

7 pm - done

 

Saturday, 17 June 2006

BEDAH VIDEO dan KOPI SORE // screening, talks & presentation

@POTLUCK café & library, Jl. Teuku Umar 9 Bandung

2 pm – done

  

 

14 June 2006 – 21 June 2006

SPACE 25x36x50 // screening

@Outdoor Soemardja Gallery, FSRD ITB

Jln. Ganesha no. 10 Bandung

10 am – 4 pm (everyday)

 

  

Sunday, 2 July 2006

Teater Utan Kayu // Screening & Discussion

@TUK, Jl. Utan Kayu no. 68H Jakarta

3 pm - done

 

Speaker : Aminudin TH Siregar

 

 

Program in June is supported by :

 

          

 


Posted on 02/18/2007 9:55 AM Comments (0)

Curioso proyecto


foto: eder castillo©

 

UN PERRO ES GUÍA DE MUSEO EN MÉXICO

MEXICO DF   /   17/12/06 - (Cine y Medios) argentina

 

 - Ishiro es guía en el museo Ex Teresa Arte Actual del Distrito Federal, en México. Todos los sábados y domingos ofrece visitas a la exposición "Fanatics From Hell", del artista Patrick Mallow, compuesta por grandes óleos con retratos de estrellas del rock y el heavy metal. Pero Ishiro no es un guía tradicional: es un perro mestizo, de cuatro años, que hace algunos meses fue adoptado por dos artistas que lo adiestraron para prestar servicios al museo, a cambio de alojamiento, comida y vacunas.
Acompañado de un entrenador que cuida la integridad de las obras expuestas,
Ishiro se levanta en dos patas para señalar los óleos y saluda a los visitantes, además de acompañarlos en un recorrido programado con anticipación, y que cuesta unos 20 pesos mexicanos por persona.
El proyecto ya causa sensación en la comunidad artística, y los servicios de Ishiro han sido requeridos en otros museos del país, por lo cual sus "padrinos"
René Hayashi y Eder Castillo estiman que la agenda del prodigioso animal estará ocupada durante todo el año 2007. Y ya piensan en entrenar algún otro can, de los muchos que suelen circular por la zona de museos del Distrito Federal

 


Posted on 02/18/2007 9:46 AM Comments (0)

Vive can el gozo estético

Reforma  /  (06 Noviembre 2006).-

 

'Contratan' perro guía. Reactiva el Ex Teresa la Muestra Internacional de Performance con 20 artistas invitados

El Ex Teresa Arte Actual, centro destinado a las expresiones más audaces de la creatividad contemporánea, "contratará" a un perro para que sirva como guía de los visitantes.

"Si no le gusta la obra, puede hacer el muertito; pero si le gusta mucho, levantará sus patas y ladrará en un gesto de aprobación", comenta divertido Carlos Jaurena, director del recinto.

A cambio de sus servicios, recibirá alimentación y una casa en el atrio del templo que será sede, a partir del 9 de noviembre, de la 12 Muestra Internacional de Performance.

Era callejero y vivía fuera del Ex Teresa. Los artistas René Hayashi y Eder Castillo, autores de esta idea, lo recogieron y lo llevaron a un campo especial de entrenamiento para mascotas que se ubica en el Ajusco.

Ichiro es alimentado y educado para que, al regresar, el 26 de noviembre, se convierta en una de las atracciones permanentes del espacio.

La iniciativa conforma una de las acciones de esta muestra anual que, tras ser suspendida en 2004 y 2005, será reactivada con la participación de 20 artistas, diez nacionales y diez extranjeros.

"Se nos ocurrió porque es recurrente que haya perros viviendo afuera de los museos; hay uno en el Tamayo y otro en el Laboratorio Arte Alameda; son perros de museo que quisimos integrar a su estructura de manera activa. Ichiro será un empleado más y se le remunerará por ello con casa, comida y medicamentos", comenta Hayashi.

Los artistas, quienes han trabajado juntos en otras piezas, como la creación de una isla artificial en el Río Suchiate, buscan que el perro reaccione con determinadas obras a través de un "mecanismo de reconocimiento".

Jaurena informa que el trabajo de Ichiro iniciará cuando termine la muestra, ya que será guía de la instalación del irlandés Patrick Mallow titulada Fanatic from hell, cuyo montaje estará listo en febrero. Paralelamente se exhibirán videos y toda la documentación del proceso de entrenamiento del perro.

"Lo ideal sería que se reentrenara al perro en cada exposición, para que se quede aquí como parte de los servicios educativos; pero antes de tomar decisiones de este tipo, tenemos que ver cómo reacciona. Si decide irse y regresar a la calle, no podremos hacer nada al respecto", comenta.

Cuando Jaurena asumió la dirección del recinto, a finales del 2004, quien ocupaba el cargo no había planeado la muestra, por lo que ese año no se llevó a cabo. En el 2005 se buscó mantener actividades de este género los sábados, y tampoco se hizo.

"Pero fue difícil y desgastante mantener los performances semanalmente, porque en ocasiones los recursos económicos no llegaban a tiempo; así que este año decidí retomar el proyecto", cuenta.

El Ex Teresa entregó alrededor de 60 invitaciones a artistas reconocidos nacional e internacionalmente, de las que recibió 35 propuestas y fueron seleccionadas 20.

"Asistí a otras muestras como artista y como público, y los niveles eran muy disparejos, había cosas muy malas. En el papel, el performance siempre suena muy bien, pero en la acción no resulta igual. Por eso no sabemos qué sucederá, pero intentamos juntar trabajos valiosos", comenta el también performer.

Sobre la utilidad del encuentro, Jaurena expresa que es necesario confrontar el trabajo de diversos autores, con miradas y temáticas distintas.

"Estoy seguro de que en México hay un público ávido de performance; esperamos unas 300 personas diariamente, durante las tres semanas que durará la muestra", finaliza.

 

Va por Kurtycz

  La 12 Muestra Internacional de Performance se inaugura este jueves, a las 19:30, con un homenaje al artista Marcos Kurtycz (1934-1996), considerado precursor de los performances y las instalaciones en México.

El artista canadiense Richard Martel, creador de este performance-homenaje, invitó a diez artistas más, entre ellos Víctor Muñoz, Vicente Rojo Cama y Lourdes Grobet, para crear una pieza en su honor.

A 10 años de su muerte, se transmitirá un documental, producido por Garo Durán.

 

Internacional

 Performanceros del mundo se darán cita en el Centro Histórico de la Ciudad. Destacan:

 · Héctor Barbone, Uruguay

· Sakiko Yamaoka, Japón

· Alejandra Herrera, Chile

· Herma Wittstock, Alemania

· Adina Bar-On, Israel

· Ángela Barthram, Gran Bretaña

 


Posted on 02/18/2007 9:23 AM Comments (0)

Gana Ichiro un hogar

Reforma / (25 Enero 2007)

 

El perro guía del Ex Teresa se retira

Ichiro, el perro guía del Ex Teresa Arte Actual, se ha retirado. Ha decidido que quiere un hogar, y ahora no es raro verlo pasear con su dueña por la Condesa o la Escandón.

Pero hasta principios de septiembre de 2006, Ichiro, de un año y medio de edad, no tenía nombre ni un techo donde guarecerse: era un perro callejero que rondaba la calle Licenciado Verdad, en el Centro.

Escuálido y sucio, su alimentación se reducía a la basura de los puestos ambulantes; ni siquiera se atrevía a ladrar porque era el más pequeño de los perros de la zona.

Pero tuvo suerte. Los artistas Eder Castillo (Tlalnepantla, 1977) y René Hayashi (Guadalajara, 1978) lo recogieron para integrarlo a su proyecto Perros de museo, como parte de la 12 Muestra Internacional de Performance del Ex Teresa.

"Buscamos perros que vivieran allí y empezó nuestro casting. Uno era un poco violento, otro no se dejaba agarrar, otro estaba demasiado obeso. Ichiro era el más sumiso de todos, y fue el elegido", cuenta Castillo.

El animal se subió solo al coche que lo llevó a casa de los artistas, en la Narvarte. A mediados de septiembre fue inscrito en la escuela Sporting Dogs, donde recibió un primer entrenamiento.

Su breve adiestramiento dio frutos, e Ichiro, aún con correa, dio tres visitas guiadas de fin de semana por seis cuadros de la exposición Fanatic from hell, del irlandés Patrick Mallow, inaugurada el 26 de noviembre.

Frente a la pieza donde Marilyn Manson aparece retratado con un rottweiler, por ejemplo, Ichiro se alzaba para luego dejarse caer, expresando temor, mientras que con la pintura del cantante Ozzy Osbourne subía las escaleras del atrio y trataba de alcanzarla, siempre acompañado del entrenador José Leyva, que ayudaba a interpretar sus movimientos.

Luego llegó la Navidad, y como el museo cerró por vacaciones, Ichiro se mudó a casa de Edith Medina, curadora de la exposición. En su nuevo hogar y una vez curado de los males que padecía, el animal adquirió confianza y olvidó su entrenamiento previo.

Cuando el Ex Teresa reabrió en enero, hacía falta reforzar su adiestramiento y llevarlo de nuevo a vivir al museo. La decisión fue fácil, refiere Castillo. "Él no es una pieza, es un ser vivo, y requiere ponernos en su situación y decir: 'Bueno, ¿qué necesita?, ¿qué es más importante: que siga dando visitas guiadas o que esté bien?'. Y creo que lo segundo gana".

Medina explica que lo importante nunca fue la visita guiada, porque la obra artística -mezcla de performance y arte público y social- era en realidad el propio proceso, que comenzó desde que Ichiro fue incluido en el proyecto. El cierre redondo de la pieza ha sido su integración a una familia.

  

Trabajo canino

 

René Hayashi y Eder Castillo trabajaron antes con perros en:

 

"Perros migrantes" (2003-2004): Consistió en pasar un perro guatemalteco a México, y uno mexicano a Guatemala. El mexicano adelgazó, y el guatemalteco subió de peso.

 

"Refugio para perros" (2004): Los artistas construyeron una vivienda canina en una unidad habitacional de Atizapán para que un perro conviviera con los vecinos. Pero el vigilante le pegó un tiro y los condóminos lo envenenaron.

 


Posted on 02/18/2007 9:19 AM Comments (0)

February 3, 2007

¿COMO HACER ARTE SIN LABORATORIO?

Revista Digital Universitaria

10 de enero 2007 • Volumen 8 Número 1 • ISSN: 1067-6079

¿CÓMO HACER ARTE SIN

LABORATORIO?

 

© Coordinación de Publicaciones Digitales. DGSCA-UNAM

Se autoriza la reproducción total o parcial de este artículo, siempre y cuando se cite la fuente completa y su dirección electrónica.

 

¿Cómo hacer arte sin laboratorio?

http://www.revista.unam.mx/vol.8/num1/art03/int03.htm

 

Esto sí sería una clase tanto de biología como de antropología para tener una habitabilidad, pero, en  definitiva, no podemos desvincular a la biología como una materia si no tiene el enlace humano. El enlace así —es la identificación— se debe comenzar por el estudio de las fuerzas en el espacio —que aprendan a ser alterados, sin identificación— es lo que sufre el ser al haber sido alterado, así alterar es ayudar a identificarse como seres que padecemos no sólo en el sentido de sufrir sino simple y llanamente de poder ser. Abrir es alterar y hacer a nuestra percepción lo que es en la primera instancia

—receptividad.

* Notas sobre proyecto biosfera / enero de 2003

 

Inicio:

Parte del trabajo, desarrollado en los primeros años de colaboración artística entre diferentes plataformas, ha abierto en nuestro proceso campos de acción que posibilitan diálogos entre la ciencia y el arte como reflejo de una realidad evidente, como una suplantación de si misma, entendiendo los procesos sintéticos sobre los cuales se reafirman uno y otro. Un interés particular en contextos similares al de México, donde las actividades artísticas se relacionan con complejas redes de colaboración, producción y hasta financiamiento, rigen el cómo y dónde realizarlos.

En nuestro proceso artístico, a finales del 2002, mientras un interés en el espacio público generaba posibles redes de intercambio entre conocimiento y forma, una propuesta se comienza a desarrollar, entre notas e ideas; durante la realización del proyecto “jardín” , donde la intención de crear un híbrido entre una mascota virtual (tammagochies) y una planta contempla una dinámica similar a las granjas de cultivo; aquí un joven migrante del campo es integrado fungiendo

como granjero, labor desarrollada naturalmente, pero poco posible de retomar en una ciudad.

La escultura híbrida mitad mascota virtual, mitad planta se vierte como un ser-objeto, natural-sintético  que nos obliga a programar actividades alrededor de éste (alimentarlo, regarlo, y hasta jugar con él de manera virtual) como si se tratara de una actividad de laboratorio, una serie de datos son retomados de la interacción entre el “granjero” y el “jardín”. Ahora, nuestro laboratorio se ha convertido en la galería

donde se realiza el experimento, por así llamarlo, de proyecto artístico. Y el granjero, individuo social especifico que sin ningún interés en la ciencia contribuye en su emulación.

El interés por combinar materia orgánica en propuestas artísticas comenzó aquí, dejando por un momento de lado el laboratorio. Este laboratorio que se enclaustra entre materiales químicos, utensilios y equipo es ahora vertido por nosotros sobre las posibilidades de relación entre el público y la obra, aquí nuestro laboratorio es la realidad misma.

En un primer ejercicio, esta relación que se comienza a formar en algunas piezas como el caso de “naturalezas muertas”, donde se intercambia como una reflexión que posibilite la idea del arte como vida misma, la naturaleza muerta es ahora una posibilidad para explorar la materia orgánica como medio o lenguaje.

Durante meses, un proceso de selección de cultivos de bacterias, retomadas en lugares públicos y seleccionados por sus características físicas como su coloración, es ahora el pretexto. Una serie de imágenes del proceso de muerte de un árbol adulto funge como una de las primeras pinturas con bacterias, la materia donde se realiza este cultivo, previa selección, consta de productos caseros, glucosa en altas cantidades, siguiendo conocimientos generales de cultivo e involucrando las técnicas de pintura al fresco, siendo ahora el fresco las bacterias y el lienzo un porta objetos, la figura nuestra emulación. Un  video de laboratorio desde un microscopio registra el proceso de vida y muerte de las bacterias, que en  su momento se presentan con texturas y colores apreciables a simple vista, dejando en el laboratorio el  espectro de material orgánico y dejándolo sólo como objeto de contemplación.

Ahora, la propuesta se vierte entre una serie de pinturas vivas y su interpretación en el plano de las artes; pero el esquema se amplÍa, dentro de nuestras mismas reflexiones de trabajo encontramos que no es la forma sino la evidencia que se hace realidad la que genera un punto de encuentro, un espacio posible.

 

Proyecto biosfera

En nuestro más reciente proyecto denominado “biosfera”, un espacio que está enclavado justo en medio del río que divide a Juárez, Chihuahua del Paso, Texas, busca la creación de un tercer espacio que detona un espacio autónomo, tanto de USA y de México volviéndose una síntesis de los dos territorios

En este lugar se encontrará en su interior una pequeña biosfera en la cual cohabitaran plantas tanto de México como de EU, así como cangrejos ermitaños, siendo éstos un híbrido entre vegetal y animal, los cangrejos se obtendrán en EU y las plantas en México, generándose una lectura metafórica en la condición de la identidad fronteriza;

 

Sobre los cangrejos en biosfera

"No pueden subsistir por sí mismos. Necesitan el cobijo que les ofrecen otras especies de su entorno. Los cangrejos ermitaños no tienen concha que les proteja de los depredadores. Por ese motivo utilizan conchas de moluscos para convertirla en su casa. Cuando sufren algún percance, la concha se rompe

o ya no es segura, o simplemente porque se les ha quedado pequeña, salen del refugio y buscan una nueva casa”. Los he visto pocas veces, cuando he ido a la playa, y realmente nunca me detuve a filosofar sobre la pobre condición del cangrejo ermitaño: simplemente era divertido ver un “caracol” corriendo más rápido de lo normal... hasta entender que no era propiamente un caracol, sino un escuálido cangrejo en plena acción vandálica. No es fácil la vida del cangrejo ermitaño: necesita un caparazón fuerte y seguro, para proteger su invertebrado abdomen, pero la naturaleza no le dio ese “dote”, como a otros de su especie, así que se pasa la vida esperando a que alguna conchita vieja de caracol esté disponible, para apropiarse de ella, contando con la suerte de que el nuevo hogar se ajuste bien a su tamaño. Pero aún con su coraza encima, protegido del mar y los depredadores, esa concha no es suya... siempre será una “casa prestada”. Caso similar es el de los migrantes y refugiados que se ven obligados a dejar sus lugares de origen y sus hogares por factores externos como la inestabilidad económica, la

falta de oportunidades, la búsqueda de una mejor calidad de vida y en casos extremos por condiciones otras como perder su patrimonio y sus hogares por causa de las guerras y otros tipos de violencia que vivían en sus países; así deambulan por el mundo buscando “conchas” ajenas para restablecer aunque sea de manera temporal, sus hogares. Así, mientras los cangrejos-ermitaños-humanos navegamos entre una insoportable parafernalia legal que nos ofrezca el derecho a tener un refugio, nuestro crustáceo amigo puede darse por “bien servido”: la madre naturaleza sí es sabia y nunca le faltarán conchitas.

*Notas y reflexiones sobre proyecto

 

Una comunidad de moscas blancas, individuos mutantes cultivados en un laboratorio de la facultad de ciencias biológicas, que han sido trabajados conjugando diferentes dinámicas genéticas (mutaciones) encontradas durante las investigaciones del genoma humano aplicado en la mosca drosophyla (mosca de la fruta), también son integrados para dar pie a una reflexión entorno a la construcción de una identidad sublimada por un orden social (el “pocho” que se siente “gringo”, el “gringo” que se siente “latino”, las alteraciones estéticas al cuerpo, el uso de tintes, bronceados y otros modos de transformación estética a la que es sometido el cuerpo para cubrir el reflejo deseado). Estos híbridos serán documentados a diario durante el tiempo que dure el proyecto con la finalidad de volver al material registrado en un

documental, que pase al aire en un canal de Juárez, que también es trasmitido en el Paso, Texas.

La biosfera es, en este caso, una simbología del territorio en un espacio divisorio, como una proyección de dicho espacio, una metáfora sobre la modernidad y la evolución en el espacio del hombre —dentro de sus relaciones cotidianas con el espacio— dicha situación critica, que ocurre también en el reino animal

(el cangrejo samurai, que en las costas de Japón los pescadores no lo comercian, ni lo consumen por su apariencia simbólica del caparazón con el rostro humano realizando así un proceso de selección inducido en la naturaleza) ha quedado alterada por la capacidad de crear vías alternas como las de nuevas tecnologías y que

de inmediato se integran a una sociedad para participar activamente, ya en su metamorfosis hacia la cultura.

Así, los medios de comunicación proyectan el espacio a distancias que sobrepasan el alcance fáctico, donde el mismo concepto de concreto fáctico —o donde descansan éstos dos que siguen en la condición de contingencia queda un tanto relegada a “comunicación”— nuevo concepto de estar virtualmente con alguien.

Así, estas extensiones del cuerpo, que han crecido en el hombre rápidamente, se leen más que como artefactos producidos como algo que ya es crecido, entonces existe esta “situación critica”: el hombre siempre ha tenido su imaginación y su inventiva para poder salir —purgarse— de la realidad. El arte, como la literatura, ha sido suplantada por otro tipo de expresión: la de la imagen. Este mismo factor de extensión para evadir a la realidad logra también una indiferencia que trae a

pequeños grupos, dependiendo de su espacio. Las clases bajas son imposibilitadas de estos accesos a la indiferencia —ellos son la pura realidad—.

Aquí el detonante del proyecto, a manera de programa en TV local, promueve un espacio de debate que experimenta sobre el plano de la especulación; la experiencia de la identidad como un factor de interacción biológica, donde una frontera no es demarcada por la línea de diferencia si no, en un nivel natural, se traspasa por la necesidad de coexistencia. El material se conjuntará con una serie de entrevistas que se les hará a gente tanto de Juárez y el Paso,  Texas, acerca de la identidad fronteriza, su significado y la cuestión de la convivencia. La intención es la

de generar un debate social entre los dos sectores que habitan ambos lados de la frontera invitándoles a visitar el espacio, cuestionar su condición y generar el intercambio.

Una página Web funcionará como plataforma para conectarle y transmitir en línea esta interacción de la biosfera con el resto del mundo, imágenes en tiempo real serán apreciadas y asociadas por usuarios  desde otro espacio físico, donde se presentará el proyecto en directo desde la frontera norte; y que podrá

ser visitado en su proceso desde una sala de cómputo instalada en la Sala de Arte Público Siqueiros.

Este espacio, módulo situado para entablar conexión con el proyecto desde la ciudad de México, funcionará como sala de discusión y debate en línea desde donde se abordará el tema y se devolverá en  charlas con los visitantes en la frontera, dando la posibilidad de un acercamiento lúdico y crítico para con su relación con el espacio público.

Brincando entre lo público, lo social, lo científico, no nos toca a nosotros determinar los alcances de estas posturas, más que ello el proceso de inserción en el que nos plantamos como artistas nos brinda herramientas que buscan diálogos entre diferentes actores. Aquí nuestro laboratorio es llevado a términos de realidad como ficción, donde se traspasan los límites entre ellos, generando un acercamiento lúdico entre la ciencia, el arte y la vida misma; un arte sin laboratorio

 

 

 


Posted on 02/03/2007 4:21 PM Comments (0)
ARCHIVE
la carniceria y el cerdo
mapa de zonas
tendedero
MY FRIENDS


Ederbeat's Journal Widgets:
RSS - ATOM - JavaScript
Buzz Feed